![]() |
| sumber: |
Pernahkah kita sedikit geli melihat soal ujian yang menuntut analisis mendalam dan daya kritis kita?
Pernahkah terpikir, soal tersebut menuntut kita untuk mencari solusi negeri yang kejahatannya sudah tersistematis ini?
Saya takut, ketika menjawab, ini menjadi kosong tanpa isi.
Menguap begitu saja.
Akhirnya saya berpikir,
apa yang dilakukan oleh pengajar-pengajar kita?
Bicara tentang materi,
bahaya ini dan bahaya itu,
tapi ketika dituntut solusi nyata, pengajar kita tidak bisa.
Namun bisa seenaknya sendiri memberikan nilai,
tergantung subjektivitas dan barangkali sedikit objektivitas.
Sambil, memaklumi jawaban siswanya.
Kadang,
ada sedikit harapan.
Ketika mahasiswa bicara panjang lebar.
Sepertinya, ada harapan nyata di tengah bualan mereka.
Sayangnya,
Ketika bicara harapan,
Ketika bicara ide dan gagasan,
Kita, kembali dituntut pragmatis.
Layaknya mesin, disuruh ini mau, disuruh itu mau,
Pernah ada peristiwa,
mahasiswa membeli pakaian yang sama,
membuat presentasi ria dan ceria,
tanpa tahu esensi dibelakangnya.
Padahal,
diajar press release saja belum,
diajar membuat berita yang baik saja kurang,
menerika dan menolak tawaran dari klien juga tidak,
apalagi terjun ke masyarakat?
Jadi
kalau ada pertanyaan,
berikan solusi anda, berikan kritik anda.
Siapa berani menjawab.......
Coba saja sana pak/bu, kalo bisa!
*Tulisan ini ditulis karena penulis geram melihat soal ujian yang meminta-meminta solusi normatif dan tidak ada perubahan
berikan solusi anda, berikan kritik anda.
Siapa berani menjawab.......
Coba saja sana pak/bu, kalo bisa!
*Tulisan ini ditulis karena penulis geram melihat soal ujian yang meminta-meminta solusi normatif dan tidak ada perubahan
