| sumber: |
Sangat jauh apabila dibanding sekarang.
Diceritakan dalam pembukanya, kegelisahan seorang mahasiswa baru karena kampusnya,
yang sepi dari dinamika perlawanan.
Diceritakan kemudian dalam bab berikutnya, mahasiswa baru akhirnya menemukan sebuah gerakan,
kaderisasi dan diskusi menjadi motor dan sumber bahan bakarnya.
Membaca, menulis, aksi, dan melawan menjadi sarana untuk menunjukkan eksistensi dan keberadaan mereka.
Kini?
Kata kaderisasi saja telah dianggap terlalu tendensius.
Aksi dianggap tak berguna.
Diskusi semakin sepi peminat.
Kalau sudah seperti ini, lantas bisa apa?
