Agustus 2014, Ruang Semiloka Komunikasi
ilustrasi - Mahasiswa |
Beberapa alumni bercerita tentang
pekerjaannya masing-masing di ruang semiloka saat itu.
"Dunia kerja, tak butuh banyak teori.
Oleh karenanya, diperbanyak saja mata kuliah praktikum dan pengajaran yang
sifatnya praktik."
Lantas, timbul pertanyaan besar? Apa benar
nantinya kurikulum pendidikan mahasiswa harus mencetak manusia yang siap kerja?
Salah seorang temanku, menyampakan
pandangannya di tempat yang sama. Ia berpendapat bahwa teori juga penting,
karena nantinya teori yang membedakan praktisi yang berasal dari komunikasi dan
bukan. "teori bisa diaplikasikan menjadi praktik."
Ia menambahkan sikap dosen yang hanya
sebagai komunikator pemberi pesan satu arah yang sifatnya hanya mengajar, bukan
menjadi seorang pendidik. Ada beberapa yang hanya memberikan tugas tapi tidak
di-follow up dan berbagai kekecewaan lainnya.
Rencana tahunan dalam bentuk kurikulum
layaknya menjadi jawaban atas semua persoalan. Kurikulum menjadi pondasi
penting bagi pengajaran di dunia pendidikan. Saat ini, kurikulum 2011-2015
Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB, mengatur jadwal mata kuliah yang sifatnya
teoritis dan pemahaman dasar pada 2 tahun pertama dan praktik di tahun ke 3.
Hal ini disebabkan oleh pemahaman pendidik
yang menekankan bahwa sarjana komunikasi berarti paham tentang seluruh ilmu
komunikasi. Mahasiswa diharapkan tidak hanya sekedar paham beberapa fokus
bidang kajian (jurnalistik, broadcasting, PR, Advertising, dll) akan tetapi
memahami keseluruhan. Alhasil, ilmu yang dimiliki oleh seorang mahasiswa
bersifat luas, tidak bersifat mendalam. Setidaknya inilah yang masih
dipertahankan oleh jurusan, terkait visi dalam mencetak lulusannya.
Pertanyaan kemudian, manakah yang lebih
tepat, ilmu bersifat luas atau mendalam?
Tuntutan zaman yang terus berubah terlebih
jurusan/program studi ilmu sosial, membuat kurikulum untuk menghasilkan output
lulusan yang berkualitas menarik untuk dibahas. Beberapa menekankan mahasiswa
harus pandai terhadap bidang-bidang keilmuan dan pemahaman, akan tetapi tak
sedikit pula yang menginginkan sebagai seorang praktisi yang ahli dalam suatu
bidang. Tugas besar menanti para pendidik, yang tugasnya tidak hanya mengajar.
Sebagai suatu tim, perlu adanya rumusan tentang kurikulum dan pendidikan
berjenjang di tingkatan Strata-1.
Apabila kembali menengok pendapat alumni
tentang keinginan lulusan yang siap kerja. Pertanyaannya sekarang, Mengapa
tidak masuk diploma? Mungkin gengsi akan gelar bisa jadi jawabannya. Kembali
lagi, rumusan mengenai kurikulum perlu dibicarakan mendalam, karena menyangkut
kompetensi lulusan, bukan sekedar trial n error 4 tahunan
semata yang didasarkan pada kebutuhan pasar. Maka, tak heran mahasiswa menjadi
komoditas pasar belaka.
Idealnya, setiap tenaga pendidik
merumuskan rencana dan kurikulum secara strategis. Apabila menginginkan
keilmuan dan praktikum berjalan beriringan, kebijakan dan pola pengajaran mata
kuliah praktikum bisa diperhatikan kembali. Jangan sampai, mata kuliah praktikum
hanya membuat video tanpa makna, dan poster yang penilaiannya berdasarkan
subjektifitas dosen yang setelah itu akan disimpan, menumpuk di laci dosen atau
gudang jurusan.
Sedikit menilai apresiasi, jurusan
setidaknya bisa membuat ruang pameran karya mahasiswa berisi Televisi untuk
pemutaran video karya mahasiswa, rak buku dan majalah, dengan dinding yang
ditempeli poster tugas mahasiswa. Biaya dari mana? bisa saja lewat biaya
praktikum yang dibayarkan tiap semesternya.
Selain itu, perlunya pembahasan mengenai
kurikulum mata kuliah dasar dan peminatan, harus direvisi kembali. Semakin
banyak komposisi mata kuliah pilihan bisa menjadi alternatif untuk mendukung
keinginan berbagai mahasiswa yang beragam. Sehingga nantinya, mahasiswa sendiri
yang memilih mata kuliah apa yang tepat serta sesuai dengan minat dan
kemampuannya. Misalkan saja, di semester 3-4 mata kuliah wajib berkisar enam
hingga tujuh mata kuliah, dan di semester yang sama mata kuliah pilihan bisa
mencapai empat mata kuliah per semester yang kemudian bisa dipilih oleh
mahasiswa sesuai minatnya.
Begitu pula untuk mata kuliah minat, bisa
menjadi alternatif untuk menambah pilihan mata kuliah dan peminatannya. Toh
setiap mahasiswa sudah pandai dalam memilih jalan hidupnya, dibandingkan kurikulum
4 tahun belakangan masih terkesan diarahkan (terlihat dari mata kuliah pilihan
yang sedikit). Momen pergantian kurikulum 2015 tahun ini bisa menjadi momentum
baru, mau dibawa kemana mahasiswa komunikasi?
Bukankah seperti kata ibu dan bapak dosen,
Kita Sudah Dewasa Bukan?
*Ditulis dari hasil diskusi Semiloka
Kurikulum Komunikasi 2014 bersama dosen-dosen Komunikasi FISIP UB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar