Minggu, 07 September 2014

Mau Dibawa Kemana Mahasiswa Komunikasi?

Agustus 2014, Ruang Semiloka Komunikasi



ilustrasi - Mahasiswa
Beberapa alumni bercerita tentang pekerjaannya masing-masing di ruang semiloka saat itu.
"Dunia kerja, tak butuh banyak teori. Oleh karenanya, diperbanyak saja mata kuliah praktikum dan pengajaran yang sifatnya praktik."
Lantas, timbul pertanyaan besar? Apa benar nantinya kurikulum pendidikan mahasiswa harus mencetak manusia yang siap kerja?
Salah seorang temanku, menyampakan pandangannya di tempat yang sama. Ia berpendapat bahwa teori juga penting, karena nantinya teori yang membedakan praktisi yang berasal dari komunikasi dan bukan. "teori bisa diaplikasikan menjadi praktik."
Ia menambahkan sikap dosen yang hanya sebagai komunikator pemberi pesan satu arah yang sifatnya hanya mengajar, bukan menjadi seorang pendidik. Ada beberapa yang hanya memberikan tugas tapi tidak di-follow up dan berbagai kekecewaan lainnya.

Pentingnya Kurikulum
Rencana tahunan dalam bentuk kurikulum layaknya menjadi jawaban atas semua persoalan. Kurikulum menjadi pondasi penting bagi pengajaran di dunia pendidikan. Saat ini, kurikulum 2011-2015 Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB, mengatur jadwal mata kuliah yang sifatnya teoritis dan pemahaman dasar pada 2 tahun pertama dan praktik di tahun ke 3.
Hal ini disebabkan oleh pemahaman pendidik yang menekankan bahwa sarjana komunikasi berarti paham tentang seluruh ilmu komunikasi. Mahasiswa diharapkan tidak hanya sekedar paham beberapa fokus bidang kajian (jurnalistik, broadcasting, PR, Advertising, dll) akan tetapi memahami keseluruhan. Alhasil, ilmu yang dimiliki oleh seorang mahasiswa bersifat luas, tidak bersifat mendalam. Setidaknya inilah yang masih dipertahankan oleh jurusan, terkait visi dalam mencetak lulusannya.
Pertanyaan kemudian, manakah yang lebih tepat, ilmu bersifat luas atau mendalam?
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6d1whDSuEPlLStzwxgDBjroXsY1ke8VTXRTJ33rJlOof2bLZYUu4L_9vWnt6NymGBVK1WfFO4pW-7gyPFKJzSXGpdhRNyH3v0Pooi6Vb3KLS6qbBjBgtbQtWfSkbTkgIfyQlpEjDBx-Y/s1600/gambarnews1731.526_mahasiswa.jpegTuntutan zaman yang terus berubah terlebih jurusan/program studi ilmu sosial, membuat kurikulum untuk menghasilkan output lulusan yang berkualitas menarik untuk dibahas. Beberapa menekankan mahasiswa harus pandai terhadap bidang-bidang keilmuan dan pemahaman, akan tetapi tak sedikit pula yang menginginkan sebagai seorang praktisi yang ahli dalam suatu bidang. Tugas besar menanti para pendidik, yang tugasnya tidak hanya mengajar. Sebagai suatu tim, perlu adanya rumusan tentang kurikulum dan pendidikan berjenjang di tingkatan Strata-1.
Apabila kembali menengok pendapat alumni tentang keinginan lulusan yang siap kerja. Pertanyaannya sekarang, Mengapa tidak masuk diploma? Mungkin gengsi akan gelar bisa jadi jawabannya. Kembali lagi, rumusan mengenai kurikulum perlu dibicarakan mendalam, karena menyangkut kompetensi lulusan, bukan sekedar trial n error 4 tahunan semata yang didasarkan pada kebutuhan pasar. Maka, tak heran mahasiswa menjadi komoditas pasar belaka.
Idealnya, setiap tenaga pendidik merumuskan rencana dan kurikulum secara strategis. Apabila menginginkan keilmuan dan praktikum berjalan beriringan, kebijakan dan pola pengajaran mata kuliah praktikum bisa diperhatikan kembali. Jangan sampai, mata kuliah praktikum hanya membuat video tanpa makna, dan poster yang penilaiannya berdasarkan subjektifitas dosen yang setelah itu akan disimpan, menumpuk di laci dosen atau gudang jurusan.
Sedikit menilai apresiasi, jurusan setidaknya bisa membuat ruang pameran karya mahasiswa berisi Televisi untuk pemutaran video karya mahasiswa, rak buku dan majalah, dengan dinding yang ditempeli poster tugas mahasiswa. Biaya dari mana? bisa saja lewat biaya praktikum yang dibayarkan tiap semesternya.
Selain itu, perlunya pembahasan mengenai kurikulum mata kuliah dasar dan peminatan, harus direvisi kembali. Semakin banyak komposisi mata kuliah pilihan bisa menjadi alternatif untuk mendukung keinginan berbagai mahasiswa yang beragam. Sehingga nantinya, mahasiswa sendiri yang memilih mata kuliah apa yang tepat serta sesuai dengan minat dan kemampuannya. Misalkan saja, di semester 3-4 mata kuliah wajib berkisar enam hingga tujuh mata kuliah, dan di semester yang sama mata kuliah pilihan bisa mencapai empat mata kuliah per semester yang kemudian bisa dipilih oleh mahasiswa sesuai minatnya.
Begitu pula untuk mata kuliah minat, bisa menjadi alternatif untuk menambah pilihan mata kuliah dan peminatannya. Toh setiap mahasiswa sudah pandai dalam memilih jalan hidupnya, dibandingkan kurikulum 4 tahun belakangan masih terkesan diarahkan (terlihat dari mata kuliah pilihan yang sedikit). Momen pergantian kurikulum 2015 tahun ini bisa menjadi momentum baru, mau dibawa kemana mahasiswa komunikasi?
Bukankah seperti kata ibu dan bapak dosen, Kita Sudah Dewasa Bukan?
*Ditulis dari hasil diskusi Semiloka Kurikulum Komunikasi 2014 bersama dosen-dosen Komunikasi FISIP UB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar