Apa itu masyarakat sipil? Yuk simak perkembangan masyarakat sipil di Indonesia :)
Kamis, 30 Juli 2015
Senin, 22 Juni 2015
Check in di Path: Sebuah Kisah Hape Baru*
*Diskusi dan Tersadarkan di Karep Cafe, Senin malam waktu mau kerjain PSC
"Ciee hape baru, ciee hape baru, ciie hape baru,"
Kalimat itu yang terus muncul ketika akhirnya saya memutuskan kalah oleh liberalisme, pasar, kapitalisme, dan tetek bengeknya.
Hape Nokia X2-02 semasa SMA yang telah benar-benar hancur dimakan zaman akhirnya terpaksa harus kalah dengan keinginan orang tua yang menginginkan anaknya ganti hape. Apa pasalnya, mama tidak mau melihat anaknya tidak modern, tidak mbois, dan ketinggalan zaman, bahkan sampai membawa bawa komunikasi...
"Anak komunikasi tapi kok gak pakai alat komunikasi yang bagus,"
(Sebelumnya saya sering berdebat dan menyampaikan alasan mengapa tidak mau ganti hape ke teman-teman saya, dan keinginan itu belum muncul-muncul, tapi kalau sudah ortu mau gimana lagi)
Setelah berdebat sedikit, sampai membawa-bawa budaya massa, konstruksi media, budaya populer hingga cultural studies dengan orang tua. Fix saya tetap kalah, bagaimana tidak, dengan kalimat simpel
"Mama sudah kirim uang * juta, pokoknya harus beli hape,"
The power of pokoknya, yeay saya kalah.
"Ciee hape baru, ciee hape baru, ciie hape baru,"
Kalimat itu yang terus muncul ketika akhirnya saya memutuskan kalah oleh liberalisme, pasar, kapitalisme, dan tetek bengeknya.
Hape Nokia X2-02 semasa SMA yang telah benar-benar hancur dimakan zaman akhirnya terpaksa harus kalah dengan keinginan orang tua yang menginginkan anaknya ganti hape. Apa pasalnya, mama tidak mau melihat anaknya tidak modern, tidak mbois, dan ketinggalan zaman, bahkan sampai membawa bawa komunikasi...
"Anak komunikasi tapi kok gak pakai alat komunikasi yang bagus,"
(Sebelumnya saya sering berdebat dan menyampaikan alasan mengapa tidak mau ganti hape ke teman-teman saya, dan keinginan itu belum muncul-muncul, tapi kalau sudah ortu mau gimana lagi)
Setelah berdebat sedikit, sampai membawa-bawa budaya massa, konstruksi media, budaya populer hingga cultural studies dengan orang tua. Fix saya tetap kalah, bagaimana tidak, dengan kalimat simpel
"Mama sudah kirim uang * juta, pokoknya harus beli hape,"
The power of pokoknya, yeay saya kalah.
Sabtu, 13 Juni 2015
Program Kreativitas Mahasiswa: Benarkah Sebuah Proposal Perubahan?*
| sumber: www.mipa.unsri.ac.id |
Seperti kata birokrat di saat penerima maba. "Buatlah PKM bila ingin berprestasi, wakililah Universitasmu, banggakan, banggakan dia dimanapun kalian berada, ikutlah lomba, bicara lah di forum Internasional," ungkap birokrat sambil tersenyum sungging.
Tak jauh dari gedung penerimaan maba, pedagang kecil di kantin mengeluh uang sewa semakin naik. Tak jauh dari sana juga relokasi pedagang keliling tak membuahkan kesejahteraan.
Serta yang lebih parah, uang kuliah yang mencekik ditambah spanduk bank swasta tanpa ada yang melakukan protes bertuliskan
"Jangan lupa, bayar SPP, jangan terlambat, pembayaran bisa dilakukan di bank kami"
Tulisan ini murni provokasi, tapi jangan salah, tulisan ini berdasarkan fakta dari realita PKM yang sangat utopia. Bagi para pejuang PKM yang sedang berjuang, dan melakukan keberatan, ditunggu tulisannya dan aksi nyatanya.
12 Juni, Jumat siang, saya berdiskusi bersama salah seorang rekan yang sering mengikuti PKM. Terhitung puluhan PKM telah ditulisnya, tak jarang uang pun berjuta-juta masuk ke kantungnya. Ketika ditanya, apa PKM yang diteliti itu diaplikasikan? ternyata sangat sedikit yang ia aplikasikan. Singkatnya, buat proposal perubahan, kirim, tembus, dapat duit, selesai.
Jumat, 12 Juni 2015
Menuju Tegaknya Syariat Islam dan Janji Allah - Bag 1*
| sumber: www.telegraph.co.uk |
"yang
jelas bay, tegaknya syariat islam itu Janji Allah,"
Membicarakan
solusi untuk negeri ini tidak ada habisnya. Ditambah dengan
dibukanya kran-kran demokrasi dan kebebasan berkumpul berserikat hingga
mengeluarkan pendapat menjadi berkah tersendiri di era reformasi.
Demokrasi
dan reformasi yang telah berjalan hampir 17 tahun mulai menemukan bentuk
terbaiknya. Sistem trias politica ala montesquieu menjadi 3 pilar demokrasi yang terbilang cukup baik, bahkan belakangan media massa diklaim menjadi pilar keempat demokrasi di Indonesia. Akan
tetapi, pada perkembangannya, sistem demokrasi belum berjalan maksimal akibat perselingkuhan antar pilar yang seharusnya saling mengawasi malah saling melakukan kompromi.
Beruntung, upaya penguatan sistem demokrasi di era reformasi kembali menguat menyusul wacana masyarakat sipil (civil society). Belakangan berkembang kelompok-kelompok masyarakat sipil baik yang berbentuk lembaga swadaya masyarakat, gerakan mahasiswa, hingga kelompok studi dan aliansi masyarakat, yang bertujuan mengawasi kinerja keempat pilar yang ada.
Beruntung, upaya penguatan sistem demokrasi di era reformasi kembali menguat menyusul wacana masyarakat sipil (civil society). Belakangan berkembang kelompok-kelompok masyarakat sipil baik yang berbentuk lembaga swadaya masyarakat, gerakan mahasiswa, hingga kelompok studi dan aliansi masyarakat, yang bertujuan mengawasi kinerja keempat pilar yang ada.
Demokrasi di Indonesia kemudian memiliki
corak tersendiri, lima pilar penguat demokrasi, trias politica, media massa,
dan civil society.
Wacana
penguatan demokrasi tterus berkembang, sampai akhirnya baaaaaam !!!!!!!!
Pola demokrasi dengan 3 hingga 5 pilar penguat dibantah total dengan sistem baru yaitu sistem tegaknya syariat islam atau khilafah yang dibawa oleh salah satu gerakan transnasional Hizbut Tahrir Indonesia. Puncaknya pembahasan mengenai isu khilafah berbarengan dengan wacana islam nusantara dan alhasil munculnya khazanah baru sistem islam di Indonesia.
Pola demokrasi dengan 3 hingga 5 pilar penguat dibantah total dengan sistem baru yaitu sistem tegaknya syariat islam atau khilafah yang dibawa oleh salah satu gerakan transnasional Hizbut Tahrir Indonesia. Puncaknya pembahasan mengenai isu khilafah berbarengan dengan wacana islam nusantara dan alhasil munculnya khazanah baru sistem islam di Indonesia.
Kamis, 11 Juni 2015
Berapa Kami Harus Membayar Uang Kuliah*
| sumber: titohilmawanreditya.blogspot.com |
Beberapa hari yang lalu, kampus resmi mengumumkan siapa mahasiswa barunya yang diterima dari sekolah - sekolah menengah. Walaupun masih setengahnya, riuh suka cita bagi mereka yang diterima di universitas impian mereka, kata-kata kecewa karena belum diterima, dan ucapan selamat serta semangat menghiasi dunia nyata dan media sosial beberapa hari belakangan. Akan tetapi, bagi mereka yang diterima, kegembiraan itu lenyap, dengan pertanyaan “Berapa kami harus membayar uang kuliah?”
Berapa
kami harus membayar uang kuliah?
Pertanyaan
singkat memang, tapi setidaknya pertanyaan inilah yang memunculkan beragam
pandangan tentang permasalahan kompleks perguruan tinggi saat ini. Dengan
diberlakukannya sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) misalnya, sistem yang
seharusnya menyebabkan biaya kuliah semakin murah justru dijadikan kesempatan
oleh kampus untuk menaikkan biaya kuliah yang semakin mencekik finansial
mahasiswa dan keluarganya.
Senin, 30 Maret 2015
Konstruksi Opini Publik di Media Sosial*
![]() |
| sumber: kapita-fikom-untar-915080119.blogspot.com |
Sebagai contoh, ialah perdebatan mengenai kenaikan harga BBM akhir tahun 2014 ataupun kenaikan pertamax di minggu-minggu ini diperbincangkan pula di berbagai media sosial seperti facebook, twitter, line, kaskus, dan semacamnya yang tak jarang akan membentuk opini publik di dunia nyata. Contoh lainnya yang cukup hangat ialah berbagai tagar #saveKPK dan #saveSepakbolaIndonesia, bahkan hingga meme menarik tentang #saveHajiLulung serta tentang kisah-kisah heroik supir taksi di Ibukota yang saling berlomba untuk menyandang gelar trending topic di twitter ataupun share terbanyak di facebook.
Langganan:
Komentar (Atom)
