Senin, 22 Juni 2015

Check in di Path: Sebuah Kisah Hape Baru*

*Diskusi dan Tersadarkan di Karep Cafe, Senin malam waktu mau kerjain PSC

"Ciee hape baru, ciee hape baru, ciie hape baru,"


Kalimat itu yang terus muncul ketika akhirnya saya memutuskan kalah oleh liberalisme, pasar, kapitalisme, dan tetek bengeknya.

Hape Nokia X2-02 semasa SMA yang telah benar-benar hancur dimakan zaman akhirnya terpaksa harus kalah dengan keinginan orang tua yang menginginkan anaknya ganti hape. Apa pasalnya, mama tidak mau melihat anaknya tidak modern, tidak mbois, dan ketinggalan zaman, bahkan sampai membawa bawa komunikasi...

"Anak komunikasi tapi kok gak pakai alat komunikasi yang bagus,"


(Sebelumnya saya sering berdebat dan menyampaikan alasan mengapa tidak mau ganti hape ke teman-teman saya, dan keinginan itu belum muncul-muncul, tapi kalau sudah ortu mau gimana lagi)


Setelah berdebat sedikit, sampai membawa-bawa budaya massa, konstruksi media, budaya populer hingga cultural studies dengan orang tua. Fix saya tetap kalah, bagaimana tidak, dengan kalimat simpel


"Mama sudah kirim uang * juta, pokoknya harus beli hape,"


The power of pokoknya, yeay saya kalah.


Akhirnya pergilah saya survey hape ke salah satu sentra hape terbesar di Kota Malang, keliling keliling, betapa katroknya saya bertanya dari satu gerai ke gerai lainnya dengan pertanyaan simpel ketika penjaga toko bertanya


"Mas mau hape apa, ayo mampir,"


Saya memutuskan untuk mencari tahu


"Mas saya mau cari hape android, yang bisa dipakai ngetik, enak tapi gak layar sentuh keypadnya, tapi layarnya besar, pokoknya enak dipakai ngetik sama bisa internetan,"


Seperti yang ada di pikiran kalian? mana ada yang seperti itu. Paling kalaupun ada, hanya galaxy chat, tapi layarnya gak besar dan gak cepet.


Terus kata mas-masnya "Gak ada mas," bahkan ada yang bilang "Gak zaman mas, biasanya sekarang gak pakai keypad,"


oke, skor sementara 2-1 , budaya massa menang.


Akhirnya setelah berpikir pikir ulang, akhirnya cari di internet tentang karakteristik hape bagus dan tips-tips memilih hape. Oke, pergilah saya beli hape di pusat hape lagi di kota malang. Dan terbelilah hape bermerk acer dengan layar agak lebar tapi tidak pakai keypad.


Berhari kemudian setelah terbelinya hape, saya gak mau bawa hape itu keluar kos karena malu dengan keadaan. Tsaaahhh.


Akhirnya, waktu lenggang tak gunakan untuk menginstall aplikasi kekinian seperti instagram, path, line, wa, dan lain sebagainya. Instal selesai saatnya tambah teman.


Pada awalnya saya terbiasa dengan line dan wa karena pernah instal di laptop. Tapi yang paling luar biasa mengagetkan adalah Path. Mengapa Path? pemberitahuan muncul terus di layar hape, check in sana check in sini, dan kafe sana kafe sini, bersama ini bersama itu.


Baiklah, saya yang bukan anak kafe, dan sudah terbiasa meminum kopi atau joshua hanya di CL, warung kopi biasa, sama makan lalapan pinggir jalan. Saya belum terbiasa melihat ternyata aktivitas teman di dunia maya begitu dahsyatnya. Meminjam istilah Goa Plato, saya tidak tahu siapa yang hidup di Goa dan hanya melihat bayang-bayang. Path membuatku terkesima dengan berbagai aktivitasnya, waktu itu ada yang check in bersama pacarnya, baiklah saya sudah tidak memutuskan pacaran, ada yang update di kafe, baiklah saya bukan anak kafe. Lalu untuk apa saya gunakan path?


Alih-alih berpikir, waktu telah menunjukkan jam 9 malam, pertanda saya harus ke Karep Cafe, eits ke kafe? Faak, baru saya melakukan kritik terhadap path dan kafenya, lalu saya ke kafe?

Ahh, 3-1 skor sementara, budaya massa menang.

Sesampainya ke kafe sahabat saya tersebut, saya langsung bergumam busuknya media sosial.


Ia berkata, "UnInstall aja, saya sudah tidak pakai path, gara-gara males ngeliat itu-itu aja,"


Setelah diskusi sebentar, oke.


Path Uninstall


Skor masih 3-2 , mau tidak mau budaya massa menang, selamat Kapitalis, selamat Modernisasi !!!


Tulisan ditulis setelah bangun pagi langsung cek hape, lalu tiba-tiba teringat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar