Jumat, 12 Juni 2015

Menuju Tegaknya Syariat Islam dan Janji Allah - Bag 1*

sumber: www.telegraph.co.uk
Juni 2015, Perbincangan Media Sosial dan Dunia Nyata
"yang jelas bay, tegaknya syariat islam itu Janji Allah,"
Membicarakan solusi untuk negeri ini tidak ada habisnya. Ditambah dengan dibukanya kran-kran demokrasi dan kebebasan berkumpul berserikat hingga mengeluarkan pendapat menjadi berkah tersendiri di era reformasi.
Demokrasi dan reformasi yang telah berjalan hampir 17 tahun mulai menemukan bentuk terbaiknya. Sistem trias politica ala montesquieu menjadi 3 pilar demokrasi yang terbilang cukup baik, bahkan belakangan media massa diklaim menjadi pilar keempat demokrasi di Indonesia. Akan tetapi, pada perkembangannya, sistem demokrasi belum berjalan maksimal akibat perselingkuhan antar pilar yang seharusnya saling mengawasi malah saling melakukan kompromi.

Beruntung, upaya penguatan sistem demokrasi di era reformasi kembali menguat menyusul wacana masyarakat sipil (civil society). Belakangan berkembang kelompok-kelompok masyarakat sipil baik yang berbentuk lembaga swadaya masyarakat, gerakan mahasiswa, hingga kelompok studi dan aliansi masyarakat, yang bertujuan mengawasi kinerja keempat pilar yang ada.
Demokrasi di Indonesia kemudian memiliki corak tersendiri, lima pilar penguat demokrasi, trias politica, media massa, dan civil society.
Wacana penguatan demokrasi tterus berkembang, sampai akhirnya baaaaaam !!!!!!!!
Pola demokrasi dengan 3 hingga 5 pilar penguat dibantah total dengan sistem baru yaitu sistem tegaknya syariat islam atau khilafah yang dibawa oleh salah satu gerakan transnasional Hizbut Tahrir Indonesia. Puncaknya pembahasan mengenai isu khilafah berbarengan dengan wacana islam nusantara dan alhasil munculnya khazanah baru sistem islam di Indonesia.


Saya tegaskan standing point bahwa saya sepakat dengan penegakan syariat islam, dan tidak ada keraguan didalamnya. Bahkan tegaknya syariat islam adalah jelas janji Allah. Datangnya Isa Al Masih dan Imam Mahdi di akhir zaman kemudian menghancurkan dajjal merupakan cerita akhir zaman yang terus saya yakini, dan kelak kemenangan Islam akan datang. Ditambah lagi dengan pedoman Alquran dan Hadits yang menjadi dasar hukum dan pedoman dalam beribadah, baik mahdhah (hablumminallah) dan muamalah (hablumminannas), tentu tidak ada keraguan di dalamnya. Akan tetapi sejauh ini, masih terdapat beberapa pertentangan mengenai cara menuju tegaknya syariat islam yang sangat debatable dan perlu banyak didiskusikan.


Sejauh ini ada beberapa poin penting gagasan Islam yang menarik untuk diperbincangkan dan dipertanyakan:
Gagasan Islam Nusantara? Islam yang menyesuaikan budaya Indonesia? Padahal budaya itu berubah-ubah, apakah Islam kemudian bersifat Fleksibel, dan sampai mana batasan fleksibelnya? Lalu berarti maksud Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, hingga Islam adalah agama universal kemudian seperti apa?
Pertanyaan tersebut yang penulis masih belum mampu untuk menjawabnya. Barangkali di tulisan berikutnya, saya akan menulisnya.
Berikutnya ialah gerakan islam transnasional, ada 2 gerakan islam transnasional yang kuat di Indonesia, HTI dan IM. Bagaimana mereka memandang syariat islam?
Pertanyaan tersebut pula, penulis belum mampu menjawabnya.
Langkah Konkret menuju tegaknya Syariat Islam. Sebuah tawaran terbuka, masuk sistem atau konfrontasi dengan sistem lama?
Pertanyaan ini pula yang penulis masih belum tahu menjawabnya, dan pertanyaan terakhir.
Syariat Islam, sebuah Utopia Gerakan Transnasional?
Apakah jangan-jangan demikian?


*Ditulis dari hasil diskusi bersama Shibgotul Haq pada tanggal 10 - 11 Juni 2015 di Perjalanan Pulang dari ngopi dan Kafe Mochi Maco

Tidak ada komentar:

Posting Komentar