| sumber: |
Seperti kata birokrat di saat penerima maba. "Buatlah PKM bila ingin berprestasi, wakililah Universitasmu, banggakan, banggakan dia dimanapun kalian berada, ikutlah lomba, bicara lah di forum Internasional," ungkap birokrat sambil tersenyum sungging.
Tak jauh dari gedung penerimaan maba, pedagang kecil di kantin mengeluh uang sewa semakin naik. Tak jauh dari sana juga relokasi pedagang keliling tak membuahkan kesejahteraan.
Serta yang lebih parah, uang kuliah yang mencekik ditambah spanduk bank swasta tanpa ada yang melakukan protes bertuliskan
"Jangan lupa, bayar SPP, jangan terlambat, pembayaran bisa dilakukan di bank kami"
Tulisan ini murni provokasi, tapi jangan salah, tulisan ini berdasarkan fakta dari realita PKM yang sangat utopia. Bagi para pejuang PKM yang sedang berjuang, dan melakukan keberatan, ditunggu tulisannya dan aksi nyatanya.
12 Juni, Jumat siang, saya berdiskusi bersama salah seorang rekan yang sering mengikuti PKM. Terhitung puluhan PKM telah ditulisnya, tak jarang uang pun berjuta-juta masuk ke kantungnya. Ketika ditanya, apa PKM yang diteliti itu diaplikasikan? ternyata sangat sedikit yang ia aplikasikan. Singkatnya, buat proposal perubahan, kirim, tembus, dapat duit, selesai.
Saya teringat tentang kisah seorang lulusan mahasiswa yang melamar pekerjaan, ketika ditanyakan curiculum vitae nya, disana tertulis banyak sekali menang PKM ini dan itu. Kemudian ditanyakan kembali, apakah ada yang dilanjutkan, ternyata tidak ada! Apa artinya, PKM yang murni program kreativitas mahasiswa, tak ada artinya.
PKM dan karya tulis memang produk tulisan atau gagasan. Saya tidak mempersoalkan karya ilmiah yang bercorak gagasan tertulis ataupun penelitian. Akan tetapi, beberapa mahasiswa hanya berhenti ketika mendapatkan uang saja, padahal yang diajukan adalah pengabdian masyarakat atau kewirausahaan. Selesai!
Apa artinya? Uang rakyat terbuang percuma.
Kadang saya mendapat cerita ada teman yang ikut dipanggil bicarakan konsepnya ke luar negeri, ke daerah-daerah. Ketika konsep itu didanai, tidak dilakukan. Walau ada juga yang melakukan, tapi tak tahu bagaimana kelanjutannya.
Malamnya, saya bertemu dengan salah seorang teman lama yang saat ini diberi amanah memimpin sebuah himpunan mahasiswa jurusan. Uniknya, di hari yang sama, ia mengeluhkan anggotanya yang sibuk dengan PKM. Katanya, supaya tidak ikut skripsi. Alhasil kegiatan organisasi kemudian terbengkalai oleh mereka. Beberapa dari temannya, malah jelas-jelas berkata, "lumayan dapat duit"
Sebuah tantangan terbuka untuk kita semua, PKM: Benarkah sebuah proposal perubahan?
*Hasil diskusi bersama dua orang rekan, jumat siang 12 juni di Mipcor dan jumat malam di STMJ Tawamangu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar