Minggu, 28 September 2014

Komunikasi Politik: Siapa yang Mem"busuk"kan Politik*

sumber: "Indonesia Negeri Dengan Presiden Dusta & Korup Akibat Politisi Busuk" by @Progres_98

Seorang Pakar Politik, Samuel J. Huntington menyampaikan gagasan tentang Political Decay atau dikenal dengan istilah pembusukan politik. Huntington menyampaikan gagasannya tentang sebuah kekacauan di tengah modernisasi sosial bisa bertambah kadar kekacauannya akibat politik dan institusinya. Namun yang jadi pertanyaan, sebenarnya siapakah yang membusukkan politik?

Sejak zaman yunani kuno, dimana Aristoteles menyampaikan gagasan tentang memakmurkan masyarakat hingga era reformasi di Indonesia, istilah "politik" diartikan beragam.
Machiavelli, salah seorang propagandatoris kenamaan mengartikan politik sebagai seni untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan. Sedangkan, Miriam Budiardjo, salah seorang pakar politik di Indonesia menyatakan politik ialah tentang kepentingan orang banyak dan bukan tentang kepentingan pribadi.

Sayangnya, 17 tahun sejak era reformasi berguli, demokrasi, keterbukaan informasi dan kebebasan berkumpul kembali ditegakkan. Persepsi masyarakat terkait politik masih sedemikian buruknya, tak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di masa orde baru. Parahnya, persepsi masyarakat terkait politik, baik aktor, institusi, hingga perilaku politik itu sendiri justru semakin buruk.


Dalam praktik berpolitik dewasa ini, masyarakat Indonesia dibuat geleng-geleng kepala dengan intrik manuver elit birokrat, kebohongan partai, dan hukum yang tebang pilih. Alhasil trias politica, sebuah konsep yang idealnya dapat melakukan check and balances di tiap institusi negara belum menemukan formasi yang tepat pada urusan ketata-negaraannya.

Sayangnya, di tengah upaya penguatan lembaga-institusi negara tersebut, kesimpulan umum yang terjadi di masyarakat menyiratkan "Politik" yang menjadi penyebab kekacauan di negara ini.

Benar, politik yang menyebabkan kekacauan di negara ini,  Unsur-unsur politik, negara, dan institusi sudah sedemikian busuknya. Pembusukan politik merupakan kesalahan terbesar dari masyarakat Indonesia. Karena politik hanyalah sebuah alat berupa kekuasaan, kekuasaan tidak berjalan sendirinya, kekuasaan merupakan benda mati layaknya pisau, yang ketika dipakai oleh koki bisa menghasilkan hidangan yang lezat, akan tetapi bila dipakai perampok bisa membahayakan nyawa seseorang.


Lalu, ketika politik hanyalah alat, lantas ada subjek-subjek yang memakai alat tersebut. Bisa jadi, yang memakai alat tersebut bisa menjawab pertanyaan, siapa yang membusukkan politik?

Apakah institusi pemerintahan dan elit-elit politik yang membusukkannya dengan  berbagai praktik oknum-oknum kerah putih? Mereka senantiasa mengambil uang rakyat dengan rakusnya, lalu masyarakat berdalih, politik itu korupsi dan korupsi itu kotor, maka silogisme yang muncul ialah politik itu kotor. Bisa jadi demikian bukan? Atau anda tidak sepakat?

Atau, media massa atau pakar politik yang sengaja membusukkannya? Mereka melakukan framing berita yang tak jarang untuk kepentingan pemilik media semata. Media massa kemudian mengundang pakar politik dan para pengamat kebijakan yang sesuai di pihak mereka lalu berbicara dengan gagahnya, seolah-olah semua bisa baik dalam hitungan jam. Bisa jadi merekalah yang membusukkan politik? Atau anda juga tidak sepakat?

Jangan-jangan kebusukan politik telah sampai di birokrat dunia pendidikan. Penanaman ide mengenai politik itu kejam, politik tak baik, politik ini politik itu, lalu belum ditariknya kebijakan mengenai kampus harus steril dari kegiatan politik. Organisasi mahasiswa sengaja dijauhkan dari perilaku politik praktis agar para birokrat bisa duduk tenang tanpa ada yang mengganggu mereka. Selain itu, mereka menciptakan mahasiswa baru yang dikonstruksi harus rajin masuk kuliah, patuh dan tidak macam-macam. Apa mereka yang membusukkan politik? Atau anda juga masih tidak sepakat?

Atau bisa jadi, mahasiswa itu sendiri yang membusukkan politik. Golongan mahasiswa suka demo dan merusak jalanan, mereka ribut antar golongan di setiap pemilihan Presiden eksekutif mahasiswa, serta tak lupa komentar sinis dari para mahasiswa apatis yang tidak peduli dengan gerakan dan mencibir mahasiswa lainnya yang aktif dalam gerakan. Bisa jadi mereka bukan?
Dan bisa jadi, mereka yang tak kuat berintrik dan akhirnya trauma dengan politik yang membusukkannya?

Atau rakyat biasa yang sudah muak dengan segala ketidakberdayaan oleh para pemilik modal, dan pemerintah yang mengambil sawah-sawah mereka dan merenggut hak hidup mereka dengan upah yang tak layak. Akhirnya rakyat hanya bisa berkata “Semua gara-gara politik!”


Lalu terakhir, bagaimana dengan anda?

Apakah anda turut membusukkan politik?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar