| sumber: "Indonesia Negeri Dengan Presiden Dusta & Korup Akibat Politisi Busuk" by @Progres_98 |
Seorang Pakar Politik, Samuel J. Huntington menyampaikan gagasan tentang
Political Decay atau dikenal dengan istilah pembusukan politik. Huntington
menyampaikan gagasannya tentang sebuah kekacauan di tengah modernisasi sosial
bisa bertambah kadar kekacauannya akibat politik dan institusinya. Namun yang
jadi pertanyaan, sebenarnya siapakah yang membusukkan politik?
Sejak zaman yunani kuno, dimana Aristoteles menyampaikan gagasan tentang
memakmurkan masyarakat hingga era reformasi di Indonesia, istilah
"politik" diartikan beragam.
Machiavelli, salah seorang propagandatoris kenamaan mengartikan politik
sebagai seni untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan. Sedangkan, Miriam
Budiardjo, salah seorang pakar politik di Indonesia menyatakan politik ialah
tentang kepentingan orang banyak dan bukan tentang kepentingan pribadi.
Sayangnya, 17 tahun sejak era reformasi berguli, demokrasi, keterbukaan
informasi dan kebebasan berkumpul kembali ditegakkan. Persepsi masyarakat
terkait politik masih sedemikian buruknya, tak jauh berbeda dengan apa yang
terjadi di masa orde baru. Parahnya, persepsi masyarakat terkait politik, baik
aktor, institusi, hingga perilaku politik itu sendiri justru semakin buruk.
Dalam praktik berpolitik dewasa ini, masyarakat Indonesia dibuat geleng-geleng
kepala dengan intrik manuver elit birokrat, kebohongan partai, dan
hukum yang tebang pilih. Alhasil trias politica, sebuah konsep
yang idealnya dapat melakukan check and balances di tiap
institusi negara belum menemukan formasi yang tepat pada urusan
ketata-negaraannya.
Sayangnya, di tengah upaya penguatan lembaga-institusi negara tersebut,
kesimpulan umum yang terjadi di masyarakat menyiratkan "Politik" yang
menjadi penyebab kekacauan di negara ini.
Benar, politik yang menyebabkan kekacauan di negara ini, Unsur-unsur politik, negara, dan institusi sudah sedemikian busuknya. Pembusukan politik merupakan kesalahan terbesar dari masyarakat Indonesia. Karena politik hanyalah sebuah alat berupa kekuasaan, kekuasaan tidak berjalan
sendirinya, kekuasaan merupakan benda mati layaknya pisau, yang ketika dipakai
oleh koki bisa menghasilkan hidangan yang lezat, akan tetapi bila dipakai
perampok bisa membahayakan nyawa seseorang.
Lalu, ketika politik hanyalah alat, lantas ada subjek-subjek yang memakai
alat tersebut. Bisa jadi, yang memakai alat tersebut bisa menjawab
pertanyaan, siapa yang membusukkan politik?
Apakah institusi pemerintahan dan elit-elit politik yang membusukkannya
dengan berbagai praktik oknum-oknum
kerah putih? Mereka senantiasa mengambil uang rakyat dengan rakusnya, lalu
masyarakat berdalih, politik itu korupsi dan korupsi itu kotor, maka silogisme
yang muncul ialah politik itu kotor. Bisa jadi demikian bukan? Atau anda tidak
sepakat?
Atau, media massa atau pakar politik yang sengaja membusukkannya? Mereka
melakukan framing berita yang tak jarang untuk kepentingan pemilik media
semata. Media massa kemudian mengundang pakar politik dan para pengamat
kebijakan yang sesuai di pihak mereka lalu berbicara dengan gagahnya,
seolah-olah semua bisa baik dalam hitungan jam. Bisa jadi merekalah yang
membusukkan politik? Atau anda juga tidak sepakat?
Jangan-jangan kebusukan politik telah sampai di birokrat dunia pendidikan.
Penanaman ide mengenai politik itu kejam, politik tak baik, politik ini politik
itu, lalu belum ditariknya kebijakan mengenai kampus harus steril dari kegiatan
politik. Organisasi mahasiswa sengaja dijauhkan dari perilaku politik praktis
agar para birokrat bisa duduk tenang tanpa ada yang mengganggu mereka. Selain
itu, mereka menciptakan mahasiswa baru yang dikonstruksi harus rajin masuk
kuliah, patuh dan tidak macam-macam. Apa mereka yang membusukkan politik? Atau
anda juga masih tidak sepakat?
Atau bisa jadi, mahasiswa itu sendiri yang membusukkan politik. Golongan
mahasiswa suka demo dan merusak jalanan, mereka ribut antar golongan di setiap
pemilihan Presiden eksekutif mahasiswa, serta tak lupa komentar sinis dari para
mahasiswa apatis yang tidak peduli dengan gerakan dan mencibir mahasiswa
lainnya yang aktif dalam gerakan. Bisa jadi mereka bukan?
Dan bisa jadi, mereka yang tak kuat berintrik dan akhirnya trauma dengan
politik yang membusukkannya?
Atau rakyat biasa yang sudah muak dengan segala ketidakberdayaan oleh para
pemilik modal, dan pemerintah yang mengambil sawah-sawah mereka dan merenggut
hak hidup mereka dengan upah yang tak layak. Akhirnya rakyat hanya bisa berkata
“Semua gara-gara politik!”
Lalu terakhir, bagaimana dengan anda?
Apakah anda turut membusukkan politik?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar